Foto di atas diambil ketika Jacgueline berumur 20 tahun. Sekaligus menjadi foto tercantik seumur hidupnya. Jacgueline merupakan
anak tunggal. Ia menghabiskan masa kecilnya di Venezuela. Ia tinggal
bersama ayahnya, setelah kedua orang tuanya bercerai. Jacquelin ingin
menjadi seorang engineer untuk meneruskan usaha keluarga yang bergerak di bidang air conditioning
(AC). Ia sangat serius mempersiapkan diri untuk mencapai mimpinya
dengan melanjutkan pendidikan ke University of Texas di Austin.
Tanggal 19 September 1999, Jacgueline bersama ke-empat orang temannya pulang dari pesta Ulang Tahun salah seorang temannya. Mobil yang dikendarai oleh Chpytchak-Bennett berjalan menyusuri jalan di pinggiran Austin. Bertepatan dengan itu, seorang pemuda bernama Reginald Stephey, seorang pemain bintang Football sedang menyetir mobil dalam keadaan mabuk berat. Mobil yang dikendarai oleh Reginald akhirnya menabrak mobil Chpytchak-Bennett. Chpytchak-Bennett dan seorang temannya meninggal seketika, dua orang yang lain mengalami luka berat namun tetap dapat menyelamatkan diri dengan berusaha keluar dari mobil, hanya Jacqueline yang terperangkap di dalam mobil karena kakinya terjepit.
Api mulai menjalar membakar mobil itu, dan Jacgueline terus berusaha untuk menyelamatkan diri. Akhirnya letupan api itu pun membakar tubuh Jacgueline selama 45 detik. Waktu yang cukup untuk membuat Jacgueline kehilangan rambut, telinga, hidung, bibir, penglihatan dan melelehkan jari-jari dan 60% kulit tubuhnya.
Setelah kecelakaan itu, Jacgueline
mengalami depresi berat. Ia harus menjalani ratusan kali operasi
seperti amputasi tangan dan transplantasi kornea mata. Mata sebelah
kirinya buta total. Hanya kornea mata sebelah kanan yang masih bisa
melihat sedikit bayangan, tetapi itu pun tak menghibur sedikit pun
karena Jacgueline tetap melihat dunia yang gelap.
Penderitaan secara fisik sangat menyakitkan. Namun, penderitaan secara
psikis jauh teramat lebih menyakitkan. Wanita muda yang sangat
bersemangat, cantik dan penuh mimpi ini harus menerima kondisi tubuhnya
yang mengerikan.
Saya mencoba beranda-andai, mungkin saja setiap kali Jacgueline bangun dari tidurnya, ia berharap bahwa semua yang terjadi pada dirinya hanyalah mimpi
buruk. Bahkan kalaupun, ia bisa melihat, rasanya ia tak akan sanggup
untuk melihat dirinya sendiri di depan cermin. Bagi saya dan anda yang
membaca, jelas kisah tentang Jacgueline adalah tragedi.
Naas. Kisah menyedihkan. Namun, hidup belumlah berakhir. Entah apa
maksud Sang Maha Kuasa masih memberikan jantung yang terus berdenyut di
dalam jiwa yang hampir mati.
Menjalani
hari-hari setelah kecelakaan tragis itu merupakan hari-hari yang sangat
jauh lebih berat dari kesakitan saat kecelakaan itu terjadi. Sang ayah
dengan penuh kasih terus berada di samping Jacgueline untuk memberikan semua yang Jacgueline butuhkan agar dapat bertahan hidup dan menjalaninya.
Tidak
semua orang yang mengalami kecelakaan karena ditabrak pemabuk meninggal
seketika. Beberapa dari mereka terus menanggung efek seumur hidup yang
tragis. Seperti yang dialami Jacgueline.
Namun yang sungguh mencengangkan saya bukanlah tentang kisah kecelakaan
tragis itu sendiri, tetapi apa yang saya temui dalam interview
terhadap Jacgueline. Di tahun 2001, Jacgueline Saburido dipertemukan dengan Reginald Stephey, sang pemabuk yang membawa mimpi buruk dalam hidupnya. Berikut merupakan kutipan kalimat yang diucapkan oleh Jacgueline kepada Reginald:
"You destroyed my life. Completely.
But i don't hate you. I forgave you."
"Kau benar-benar telah menghancurkan hidupku..
Tetapi, aku tidak membenci-mu.
Aku memaafkanmu."
Suatu kalimat yang keluar dari mulut Jacgueline dengan sangat yakin dan sadar, saat berhadapan dengan Reginald.
Dan Reginald hanya bisa tertunduk dan menangis. Setelah pertemuan itu
berakhir, Reginald mengatakan kepada media seperti ini:
"What sticks out in my mind is: 'Reggie, I don't hate you.'
It's really touching someone can look you in the eyes
and have that much compassion after all that I have caused."
Kalimat Jacgueline yang menancap dalam pikiran saya saat ini adalah :
"Reggie, aku tidak membenci-mu."
Sangat menyentuh ketika seseorang melihat anda tepat di mata
dan memiliki belas kasihan yang besar setelah apa yang sudah ku-perbuat.
Reginald Stephey
Sampai saat ini, tim medis masih terus melakukan operasi untuk memulihkan wajah Jacgueline. Di tahun 2004, Jacgueline diwawancarai dalam acara Oprah Winfrey Show. Oprah mengatakan bahwa Jacgueline adalah seorang wanita yang mempunyai kecantikan dari dalam dan menyebut Jacgueline sebagai seorang wanita yang berhasil mendefinisikan hidupnya - 'a woman who defines survival'.
Jacgueline said on Oprah Show:
"If
a person stumbles, he must pick himself up and keep going. I believe
this is very important; if not, life would not have much sense."
Jika seseorang tersandung, ia harus bangkit dan terus berjalan.
Aku percaya hal ini sangat penting.
Jika tidak, maka hidup akan menjadi tidak berarti.
- Jacgueline bersama ayahnya
Satu
kehidupan diberikan kepada satu orang. Cerita tentang Kehidupan memang
penuh dengan misteri. Hal-hal yang tidak pernah terbayangkan bisa saja
terjadi. Kejutan cerita dari Sang Sutradara Ilahi mungkin juga akan
terjadi dalam kehidupan saya dan anda. Kejutan indah? Siapa yang tak
mau. Semua mengharapkannya. Tetapi bagaimana jika Ia mau mengajarkan
makna lain yang lebih dalam lewat kejutan yang tidak kita harapkan?
Apakah kita siap untuk menerima, bangkit, belajar menikmati dan memaknai
kehidupan ini? Jacgueline
Saburado telah menerima kejutan itu dan menemukan cara berjuang untuk
bangkit dari keterpurukan. Ia berhasil mendefinisikan hidupnya.
P.S: Jangan biarkan keluarga, saudara atau teman anda
mengendarai kendaraan saat mereka mabuk.
http://www.helpjacqui.com/
( Diposkan kembali dari blognya Mbak Maya Virasonia Basoeki )
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan TIDAK MENYIMPAN KESALAHAN ORANG LAIN.
Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Kor. 13:4, 5).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar